Epistemologi Keilmuan Islam Dalam Positifisme Nabi Allah Musa AS. Dan Fenomenologi Nabi Allah Hidir

Oleh:

M. Hasyim Syamhudi

( Pembantu Rektor I Institut Agama Islam Nurul Jadid Paiton Probolinggo)

 

Abstract:

This article clarifies about paradigm providing a scholarly professed by scientist is that a positiveness using an objective a slonalization in one side and phenomenon using a subjective intution in another side. Although the phenomenon appears lately in 20th century and the presence is a critic for positiveness, it does not end a scholarly. However, by the unchanging of paradigm scientificabove, it indicates the problematic of scholarly that faces two paradigm has not been ready. Actually , both of those paradigm , has to communicate each other by understanding each characteristic that has been taught by Prophet Allah Musa As and Prophet Allah Hidir As.

As the story goes, Although in the end of prophet Allah Musa As and Prophet Allah Hidir As has to separate due to the differenceof paradign Prophet Allah Musa still receives the paradigm of prophet Allah Hidir after getting some explanations which can be received logically.

Finally, this article offers others aradigm in scholarly is that Islamic paradigm, irfani/kasyaf not only manage both of the paradigm above but also it places as a part of cleverness instrument which decorates the khazanah of scholarly.

 

Keywords: Positivism, Phenomenology, Irfani/Kashaf, nabi Allah Musa, nabi Allah Hidir As.

 

PENDAHULUAN

Suatu hari nabi Allah Musa bertanya tentang keberadaan seorang yang berilmu yang melebihi dirinya kepada bani isra’il seperti yang diriwayatkan dalam suatu hadits Imam Bukhari yang bersumber dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Abbas, sebagai berikut;

إن موسي قام خطيبا في بنى إسرائيرفسئل أي النا س أعلم فقال أنا فعتب الله عليه إذ لم يرد العلم إليه فأوحى الله إليه إن لي عبدا بمجمع البحرين هو أعلم منك قال موسى يارب فكيف لي به قال تأخذ معك حوتا فتجعله في مكتل فحيثما فقد ت الحوت فهو ثم (الحد يث)[i]

Artinya,  Sesungguhnya nabi Allah Musa as, berkhutbah di depan bani Isra’il, dan merekapun bertanya. ”Siapakah orang yang paling dalam ilmunya?”. Nabi Allah Musa, kemudian menjawab pertanyaan bani Isra’il tersebut dengan mengatakan, ”Saya”. Maka Allah mengecamnya karena ia tidak mengembalikan pengetatahuan tentang hal tersebut kepada Allah SWT. Lalu Allah mewahyukan kepada nabi Allah Musa, bahwa aku mempunyai seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan, dia lebih mengetahui dari pada engkau.

Nabi Allah Musa kemudian bertanya, ”Tuhan, bagaimana aku dapat bertemu dengannya?”.

Allah berfirman, ambillah seekor ikan, lalu tempatkan di suatu tempat dan di manapun ikan itu hilang, maka di sanalah dia berada.

Jawaban Allah SWT di atas menjadikan nabi Allah Musa terpanggil untuk mencari seorang hamba seperti yang ditunjuk-Nya, untuk dijadikan guru serta membawa segala persyaratannya seperti seekor ikan menuju suatu tempat yang menjadi pertemuan dua lautan. Para akhli berbeda pendapat tentang (مجمع البحرين) atau tempat bertemunya dua lutan tersebut. Sebagiannya ada yang mengatakan bahwa bertemunya dua lautan tersebut adalah di Afrika, tepatnya di Tunis namun sayyid Qutub menentukan di laut merah dan laut putih, tepatnya di danau al-Timsah dan danau al-Murrah Mesir atau pertemuan antara teluk aqabah dan terusan suez di laut merah. Sedang menurut Ibn ‘Asyur adalah di Palestina yang kemungkinannya di Buhraiah Tabariyah yang dikenal di kalangan orang-orang Isra’il sebagai bahru al-Jalil[ii].

Dalam artikel ini tidak akan mempermasalahkan perbedaan pandangan tersebut karena tidak mengurangi makna adanya pertemuan antara kedua nabi Allah tersebut yaitu, nabi Allah Hidir as, di satu pihak dan nabi Allah Musa as, pada pihak yang lain. Kometmen nabi Allah Musa untuk berguru kepada nabi Allah Hidir menjadi bulat sampai akhirnya kedua nabi Allah tersebut betul-betul dipertemukan oleh Allah SWT. Pertemuan kedua nabi Allah yang mulya ini dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat al-Kahfi ayat 65.

(فوجدا عبدا من عباد نا آتيناه رحمة من عند نا وعلمناه من لد نا علما (الكهف ٦٥

Artinya, Lalu mereka berdua (nabi Musa dan pembantunya) bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba kami, yang telah kami anugrahkan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang telah kami ajarkan kepadanya dari sisi kami, ilmu[iii].

Sebelum nabi Allah Musa as, menyampaikan keinginannya untuk belajar tentang keilmuan seperti yang dikehendaki Allah swt, tentu nabi Allah Musa as, terlebih dahulu meminta kesediaan nabi Allah Hidir as, untuk dapatnya secara sabar memberikan ilmu yang diketahuinya dari Allah SWT, namun tidak diberikan oleh Allah kepada nabi Allah Musa as. Namun sungguh mengejutkan nabi Allah Musa as, jawaban yang diterimanya dari nabi Allah Hidir as, justru bukan nabi Allah Hidir yang tidak mempunyai kesiapan dan kesabaran untuk memberikan ilmu yang diberikan Allah swt, kepadanya tetapi nabi Allah Musa as, sendiri yang ditetapkan sang guru sebagai seorang yang tidak akan siap dan tidak akan sabar menerimanya. Menghadapi ketetapan sang guru, nabi Allah Musa as, mencoba menenangkan dirinya dan meyakinkan sang guru dengan berkata, inshaallah tuan akan menemukan kami sebagai orang yang sabar dan tidak akan menentang segala keilmuan yang diberikannya.

Kesungguhan nabi Allah Musa as, ini diterima dengan baik oleh nabi Allah Hidir as, dengan suatu sharat agar dalam proses pembelajaran berlangsung, nabi Allah Musa as, dilarang untuk bertanya sebelum nabi Allah Hidir as, menerangkan dan menjelaskan segala fenomena keilmuan yang diterimanya.

قال ستجد نى إنشاءالله صابرا ولاأعصي لك أمرا , قال فإن اتبعتني فلا تسألنى عن شئ حتى أحد ث لك منه ذ كرا   (الكهف ٦٩ / ٧٠)

 Artinya, Nabi Allah Musa as, berkata, engkau insyaallah akan mendapti aku sebagai seorang penyabar dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu perintah. Nabi Allah Hidir pun menjawab, jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku menerangkannya kepadamu[iv].

Setelah ada kesepakatan antara nabi Allah Hidir as, dan nabi Allah Musa as, maka proses pembelajaranpun dimulai.

 

PEMBAHASAN

Dua paradigma keilmuan yang saling berhadap-hadapan.

Alkisah, suatu aktifitas transformasi keilmuan oleh nabi Allah Hidir as, kepada nabi Allah Musa as, diinformasikan oleh Allah SWT, dalam Al-Qur’an surat al-kahfi ayat 66 sampai ayat 82 yang berakhir dengan tidak berlangsungnya proses transformasi, karena antara nabi Allah Hidir  as, dan nabi Allah Musa as berdiri di atas paradigma dan nalar masing-masing. Nabi Allah Hidir as, berdiri di atas nalar intuisif subyektif sementara nabi Allah Musa as, di atas nalar rasionalitas obyektif. Perbedaan paradigma ini menyebabkan nabi Hidir as, berkata, ”Inilah perpisahan antara aku dengan kamu, aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak sabar terhadapnya”[v].

Selengkapnya proses transformasi keilmuan tersebut sebagai berikut;

Transformasi Pertama

Diajaknya nabi Allah Musa as, menaiki perahu yang pemiliknya tidak memungut ongkos kepadanya, tetapi setelah mendekati tempat tujuan, nabi Allah Hidir as, menghancurkan beberapa buah papan perahu tersebut.

Transformasi Kedua

Dalam perjalanan bersama nabi Allah Musa as, nabi Allah Hidir as, membunuh seorang remaja yang tak berdosa dan tidak pula membahayakan, baik pada diri sang pemuda maupun pada orang tuanya.

Transformasi Ketiga

Di suatu negeri yang penduduknya acuh tak acuh menghadapi kehadiran nabi Allah Hidir as, dan nabi Allah Musa as, nabi Allah Hidir pun langsung membantu dan memperbaiki dan menegakkan sebuah rumah yang hampir roboh dengan tanpa adanya permintaan penduduk negeri tersebut.

Menghadapi hal yang demikian, nabi Allah Musa as, lupa akan perjanjian sebelumnya, sebab walau bagaimana nabi Allah Musa as, adalah seorang rasul Allah yang membawa misi kebenaran syari‘ah Islam, yang tentu ia merasa berkewajiban mengingatkan gurunya, nabi Allah Hidir as, apalagi langkah-langkah nabi Allah Hidir as, yang ditempuh menurut paradigma nabi Allah Musa as jelas-jelas melanggar syari‘ah, terutama ketika nabi Allah Hidir as, membunuh seorang remaja yang tak berdosa sehingga perbuatan gurunya itu tidak didiamkan begitu saja, sehingga terlontarlah pertanyan-pertanyaan nabi Allah Musa as.

Menyikapi pertanyaan-pertanyaan nabi Allah Musa as ini, nabi Allah Hidir as berkata, jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu[vi].

Oleh karena antara keduanya tetap beridiri di atas paradigma masing-masing maka perpisahan pun tak dapat terhindarkan, namun sebagai transformer yang baik, nabi Allah Hidir masih memberikan penjelasan-penjelasan yang kemudian dapat dimaklumi oleh nabi Allah Musa as, sehingga apa yang dilakukan nabi Allah Hidir as, tidak hanya benar dan rasional, tetapi juga merupakan suatu kebijakan praktis yang dapat dibenarkan syari‘ah.

 

Penjelasan Pertama

Nabi Allah Hidir as, merusak satu atau dua papan perahu agar perahu itu tidak bisa berlayar sehingga tak dirampas. Dan ternyata raja Dzolim di daerah tersebut suka merampas setiap perahu yang didapati dalam keadaan baik. Pemilik perahu tidak meminta ongkos kepada nabi Allah Hidir as, tetapi nabi Allah Hidir as, membayar kebaikan pemilik perahu itu dengan menyelamatkan perahunya dari perampasan.[vii]

Penjelasan Kedua

Anak laki-laki yang dibunuh oleh nabi Allah Hidir as, akan menjadi sumber kesedihan dan bahaya bagi keimanan orang tuanya. Ia akan tumbuh menjadi seorang kafir dan akan membuat orang tuanya mencampakkan keimanan mereka, karena kecintaan mereka yang berlebihan kepada sang anak. Nabi Allah Hidir as, berpendapat, lebih baik bagi kedua orang tua sang anak itu bersedih, karena kematian anak mereka di dunia, dari pada menderita siksaan abadi di akhirat. Seorang anak yang lain dapat diperoleh jika anak yang satu itu mati, tetapi bila orang melupakan keimannya dan mati kafir, maka tak ada yang diperolehnya selain neraka abadi[viii].

Penjelasan Ketiga

Tentang tembok yang berada dalam keadaan rusak, bila ia roboh maka harta milik kedua anak yatim yang tersembunyi di bawahnya akan tersingkap. Harta itu akan dirampas oleh penduduk kota yang serakah dan kedua anak yatim itu tidak akan memperolah apa-apa dari warisan sah mereka[ix].

Dari proses transformasi keilmuan antara nabi Allah Musa as, dan nabi Allah Hidir as, beserta penjelasan-penjelasan nabi Allah Hidir as, di atas kelihatan bahwa keilmuan nabi Allah Musa as, berdiri di atas paradigma positifisme yang mengedepankan nalar rasionalitas obyektif sementara nabi Allah Hidir as, berdiri di atas paradigma fenomenologis yang mengedepankan nalar intuisif subyektif.

Kalaupun pada akhirnya nabi Allah Musa as, yang rasionalistik obyektif mengakhiri petualangannya dalam mentransfer keilmuan yang intuisif subyektif, kepada nabi Allah Hidir as, bukan berarti ilmu yang beparadigma fenomenogi itu dilarang untuk dijadikan paradigma keilmuan, tetapi memang paradigma fenomenologi tersebut sangat membutuhkan kesabaran untuk mengetahuinya. Kesabaran adalah kata kunci yang dikatakan nabi Allah Hidir as, sebagai seorang transformer, kepada nabi Allah Musa as, sebagai transforman seperti yang dijelaskan Allah SWT, dalam Al-Qur’an sebagai berikut,

 قال انك لن تستطيع معى صبرا ، وكيف تصبر على مالم تحط به خبرا، قال ستجدنى ان شاءالله صابرا ولااعصي لك امرا (الكهف ٦٩۔٦٧ )

 Artinya, Dia menjawab, sesungguhnya kamu tidak akan sanggup bersabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu. Musa berkata, Insyaallah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun[x].

Paradigma Positifisme

Selama ini dunia akademisi banyak dihegemoni oleh positifisme yang cendrung mengabaikan dinamika kemanusiaan dengan segala kesempurnaan potensial (fitrah) bawaannya sebagai sebuah talenta yang akan dikembangkan dalam pentas kehidupan. Paradigma positifisme yang menjadi madzhab Perancis ini dikembangkan oleh Isidore Marie Auguste Francois Xavier Comte, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Auguste Comte (1798-1857) yang dikatakan sebagai tahap akhir dari perkembangan filosofinya yang dikenal dengan teori tiga tahapan intelektual yaitu, teologis, metafisika dan positifisme. Teori ini mengemuka setelah Auguste Comte menyelesaikan enam jilid bukunya yang berjudul, Cour de Philosophie Positive pada tahun 1842[xi].

Menurut Comte, bahwa untuk tingkatan pertama (teologis) adalah tahapan intelektual manusia yang hidup sebelum era 1300-san, yang banyak menekankan kekuatan adikudrati, tokoh agama dan keteladanan manusia sebagai dasar suatu kehidupan. Saat itu segala peristiwa yang terjadi dipandang sebagai ciptaan Tuhan. Kondisi ini secara efolutif terus berkembang memasuki tahap metafisika yaitu, pada era 1300-1800-san. Keberadaan intelektualitas manusia pada era ini cendrung meletakkan kekuatan abstrak (bukan dewa-dewi personal) yang diyakini sebagai landasan dari segala aktifitas kehidupan. Tahap berikutnya pada tahun 1800-san, adalah kehidupan intelektual memasuki tahap terakhir yaitu positifisme yang ditandai oleh keyakinan terhadap kekuatan ilmu pengetahuan (science) dan teknologi. Sejak itu, manusia menghentikan segala aktifitas kajiannya kepada penyebab absolute (Tuhan atau alam), dan beralih kepada pengamatan alam fisik dan dunia sosial dengan kemampuan intelektual untuk mengetahui hukum-hukum yang mengaturnya.

Pengetahuan tentang Tuhan, agama dan manusia, diletakkan di atas obyektifikasi yang sama dengan peristiwa alam fisik lainnya sehingga keberadaan Tuhan, agama dan manusia, lalu dipersepsi seperti yang dipikirkan oleh rasionalitas manusia. Akibatnya  keberadaan Tuhan, agama dan manusia, seperti Tuhan yang maha kasih dan penyayang, agama yang rahmatan lil al-‘alamin dan manusia yang diciptakan sebagai khalifah di bumi, tidak lagi ditempatkan pada konsep suatu ajaran agama yang sebenarnya tetapi dibawa dan diukur sejauh yang dapat dipikirkan oleh kemampuan rasionalitas otak manusia.

Akibatnya keilmuan yang berdiri di atas paradigma positifisme dalam suatu perkembangan yang refolutif dewasa ini, tidak mampu memberikan kesejukan dalam kehidupan, bahkan yang terjadi munculnya berbagai problem kehidupan seperti kerusakan lingkungan, konflik horizontal yang dipicu oleh perbedaan keyakinan, ras, etnis dan kepentingan lainnya. Kenyataan ini sebenarnya mengindikasikan bahwa keilmuan yang berparadigma positifisme semata, tidak akan pernah bisa mengantar kepada perkembangan intelektual yang dapat menemukan hakikat realitas yang sebenarnya seperti hakikat Tuhan, agama dan manusia.

Perhatikan sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Wolfgang Kohler, seorang psikolog Gestalt yang berkeinginan untuk mengetahui cara manusia dapat memecahkan masalah dengan baik. Untuk kepentingan ini, Kohler mengadakan percobaan kepada seekor orang hutan yang diberi nama Sultan. Di langit-langit kandang Sultan, digantung setandan buah pisang dan di sudut kandang diletakkan beberapa buah kotak. Sultan mencoba berkali-kali mengambil pisang tersebut dan ternyata selalu gagal. Sejenak kemudian Sultan melihat beberapa buah kotak yang kemudian diangkatnya dan disusunnya sehingga pisang dapat diambil dengan baik. Selanjutnya eksperimen diulangi lagi dengan cara yang berbeda, yaitu dengan meletakkan pisang di luar kandang yang tidak jauh sehingga Sultan tidak bisa menggapainya. Di dalam kandang disediakan dua tongkat pendek yang dapat disambung dan ternyata setelah gagal berulangkali akhirnya si Sultan dapat meraihnya setelah dua tongkat tersebut disambungnya.

Keberhasilan uji coba Kohler ini kemudian diberi nama mechanical solution atau penyelesaian mekanis dengan uji coba- trial and error[xii].

Eksperimen lain dilakukan oleh Norbet Wiener (1954) seorang sosiolog yang meneliti proses mekanik yang dapat mengatur diri secara otomatis, di mana umpan balik adalah keluaran (out put) sistem yang dibalikkan, kembali (feedback) kepada sistem sebagai masukan (input) tambahan dan berfungsi mengatur keluaran berikutnya. Proses input, output dan feedback yang berasal dari kerja mekanik ini oleh Wienar kemudian dijadikan pendekatan untuk mengetahui proses sosial dari komunikasi masyarakat. Temuan ini kemudian disebut sebagai teori Cybernetics[xiii].

Dua hasil eksperimen di atas (mechanical solution dan cybernetics) kemudian dijadikan sebuah teori untuk mengukur prilaku manusia yang tingkat keberhasilannya tidak bisa dilepaskan dari keberadaan stimulus yang diterimanya. Artinya, apapun yang dilakukan seseorang manusia tidak bisa dipisahkan dari keberadaan stimulus yang memberikan motivasi terhadap indra untuk melakukan sesuatu yang secara mekanik, kualitas dan kuantitas keberhasilannya dikur melalui feedback seperti  yang terjadi dalam proses sibernetika.

Pertanyaan lalu muncul, samakah karakter seekor orang hutan yang kehidupannya terkerangkeng dalam nalurinya dengan manusia yang nalurinya dapat dikendalikan oleh berbagai kecerdasan sebagai kesempurnaan potensial (fitrah) dari Allah SWT, termasuk juga proses mekanik yang tidak pernah mempunyai rasa susah dan bahagia. Disinilah positifisme akan terus mengalami benturan yang tidak bisa terjawab tanpa  pendekatan-pendekatan lain seperti paradigma fenomenologis yang dilakukan nabi Allah Hidir as, di atas. Benturan paradigma positifisme lain yang sangat problematik bagi pengembangan keilmuan adalah:

Pertama, adanya dampak negatif perkembangan ilmu pengetahuan modern, yang terdiri dari dampak militer, dampak ekologis, dampak sosiologis, dan dampak psikologis.

Kedua, soal bangunan epistem yang menjadi dasar tumbuh kembangnya ilmu, yaitu rasionalitas melebihi wahyu, kritik lebih dari sikap adaptif terhadap tradisi dan sejarah, progresivitas lebih dari sekedar konservasi tradisi, dan universalisme yang melandasi tiga elemen sebelumnya.

Ketiga, seiring dengan universalisme itu, elemen-elemen epistem tersebut lalu menjadi kekuatan hegemonik, sehingga tidak tersedia lagi ruang tafsir atas realitas[xiv].

Keempat, hilangnya rasa spiritualitas dalam kehidupan.

Kelima, bergesernya value sistem keagamaan yang selama ini dipegang teguh.

Problem keilmuan yang hanya berdiri di atas penggunaan nalar rasionalitas obyektif yang positifistik seperti pada ilmu kealaman, akan mengalami kesulitan ketika dihadapkan kepada sesuatu, yang realitas kebenarannya berada di atas nalar intuitistik yang subyektif seperti kejujuran, keadilan, kekhusyu’an, tanggung jawab, kedamaian bersama keagungan sang pencipta, dan lain-lainnya. Bila demikian dapatkah positifisme yang dianggap sebagai dewa penyelamat manusia modern sekarang ini dipertahankan? Hanya sejarah lah yang akan menentukan. Namun beberapa kegelisahan dari para ilmuwan  positifistik nampaknya sudah mulai banyak dirasakan. Paling tidak dari beberapa hasil wawancara Jhon Horgan terhadap Sir Karl Popper, Thomas Khun dan Feyerabend menunjukkan semakin menguatnya kegelisahan itu.

Dari Sir Karl Popper, diperoleh jawaban bahwa ilmu pengetahuan tak kan pernah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang makna dan tujuan alam semesta. Dan karena alasan itulah ia tak pernah benar-benar meninggalkan agama[xv].

Dari Thomas Khun, diperoleh jawaban bahwa ia sependapat dengan Poper, bahwa ilmu pengetahuan mungkin tidak akan berlangsung lama, bahkan dalam keadaan normal ilmu pengetahuan bisa berakhir, karena para ilmuwan tidak mampu melakukan perjalanan yang lebih jauh, bahkan jika terdapat sumber daya yang mencukupi[xvi]. Dan dari Feyerabend diperoleh jawaban, bahwa filsafat tidak bisa menyajikan metodologi atau rasio bagi ilmu pengetahuan, karena memang tidak ada rasio yang bisa menjelaskannya. Ketika ia menjawab tentang adanya penghinaan terhadap agama, ia mengatakan bahwa beribadah mungkin tidak terlalu efisien, jika dibandingkan mekanika langit, tetapi ibadah tentunya menyimpan maksudnya sendiri yang berlawanan dengan beberapa bagian ilmu ekonomi[xvii].

Lima belas abad silam, ketika Al-Qur’an diturunkan, sebenarnya telah diilustrasikan oleh Allah SWT, tentang ketertinggalan ilmu positifistik yang menggunakan nalar rasionalistik obyektif, bila dibanding dengan ilmu fenomenologik yang banyak menggunakan nalar intuisif subyektif. Pada uraian terdahulu ilustrasi tersebut dapat dipahamai dari proses transformasi keilmuan yang dilakukan oleh nabi Allah Hidir as, kepada nabi Allah Musa as, sebagai transformannya, yang berakhir dengan tidak terserapnya nalar intuisif nabi Allah Hidir as, oleh nabi Allah Musa as,  sebelum akhirnya dijelaskan oleh nabi Allah Hidir as.

 

Paradigma Fenomenologis

Paradigma fenomenologi ini dikembangkan oleh sarjana German sebagai bentuk kritik terhadap posistifisme yang selama ini menghegemoni keilmuan yang berkembang selama ratusan tahun. Untuk itu paradigma ini sering disebut dengan Post-Positifisme sebagai madhab German yang berkembang sejak awal abad 20. Bila paradigma positifisme bersumber dari pemikiran Arestotelian maka fenomenologi bersumber dari pemikiran Platonian yang kemudian dikembangkan oleh Edmund Husserl. Menurut Husserl bahwa ilmu itu tidak hanya terbatas kepada sesuatu yang bersifat emperik obyektif, tetapi meliputi segala sesuatu yang dipersepsi, dipikirkan dan kemauan subyek[xviii], yang bersifat intuisif subyektif.

Dengan demikian paradigma fenomenologi oleh Husserl digunakan untuk melihat apa yang nampak dalam kesadaran dengan membiarkan apa yang nampak itu, berbicara apa adanya tanpa suatu intervensi pemikiran dari siapapun terhadapnya, sebagai sebuah fenomena. Zuruck zu den sachen selbt[xix], demikian ungkapan Husserl yang berarti, kembalilah kepada realitas itu sendiri.

Ada tiga hal yang diperlukan menurut Husserl dalam rangka menemukan realitas yang sebenarnya serta menghilangkan segala sesuatu yang mengganggu dalam upaya menemukan suatu hakikat dari sebuah wessenchau atau fenomena. Tiga hal tersebut adalah:

Pertama, menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif, harus obyektif dan terbuka untuk semua gejala yang diajak bicara.

Kedua, menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diperoleh dari sumber lain dan semua teori dan hipotesisi yang sudah ada.

Ketiga, menyingkirkan seluruh tradisi pengetahuan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan orang lain untuk sementara harus dilupakan[xx].

Semua itu dilakukan agar wessenchau dapat berbicara apa adanya tanpa suatu pengaruh dari berbagai pemikiran yang ada termasuk pemikiran sang ilmuwan. Itulah sebenarnya yang dilakukan oleh nabi Allah Hidir as, ketika ia melihat sebuah fenomena sebagai wessenchau yang perlu disikapi melalui nalar intuisif subyektif dan tidak terjangkau oleh nabi Allah Musa as, yang melihat sebuah fenomena berdasarkan nalar rasionalitas obyektif.

 

Kecerdasan Sebagai Instrumen Keilmuan

Ketika John Locke (1632-1704) berpikir bahwa bayi ketika lahir ibarat kertas yang masih putih bersih dan akan tumbuh serta berkembang[xxi], maka sejak saat itu John Locke dianggap sebagai nabi evolusi yang paling moderat dan paling berhasil dari evolusi yang ada[xxii].

Apa yang dipikirkan John Locke mengindikasikan bahwa kehadiran seorang anak, kaitannya dengan kecerdasan adalah sangat tergantung kepada lingkungan di mana anak tersebut berada. Artinya anak akan menjadi cerdas dalam menyerap keilmuan, bila lingkungan yang mengitarinya memberikan nuansa kecerdasan kepada anak dan sebaliknya anak akan menjadi bodoh kalau lingkungan yang mengitarinya tidak memberikan warna yang dapat mencerdaskannya.

Karena pemikirannya ini, John Locke dikenal dikalangan para ahli sebagai psikolog yang beraliran emperisme, karena cerdas dan tidaknya seorang anak dalam menyerap keilmuan sangat tergantung kepada optimalisasi dan kualitas pendidikan yang mengitari sang anak. Bagi John Locke, sifat bawaan sama sekali tidak menjadi bagian yang berpengaruh terhadap kecerdasan anak, oleh karena sifat bawaan baginya tidak ada dan anak ibarat kertas yang masih putih bersih sehingga kecerdasannya dalam menyerap keilmuan sangat tergantung kepada pendidikan yang datang dari instansi luar yaitu lingkungan sekitar dan bukan dari instansi dalam yang dalam hal ini adalah bawaan si anak.

Dalam konsep Islam, apa yang dipikirkan John Locke tersebut bersifat second opinion karena menurut konsep Islam seorang anak yang dilahirkan telah dipadati oleh kesempurnaan potensial (fitrah) sebagai talenta yang harus dikembangkan melalui serapan keilmuan yang ada di lingkungan anak seperti yang disebutkan dalam sebuah hadist riwayat Abi Ya ‘la, Tabrani dan Baihaqi yang bersumber dari sahabat Aswad bin Sari’ sebagai berikut,

كل مولود يولد على الفطرة حتى يعرب عنه لسانه فأبواه يهودانه أوينصرانه أويمجسانه [xxiii]

Artinya, Setiap anak dilahirkan atas kesempurnaan potensialnya (fitrah), termasuk bahasa yang ia katakan, maka ayah ibunya lah yang menjadikan anak tersebut menjadi yahu di, nasrani dan majusi.

Dengan demikian menurut Islam seorang anak lahir bukan bersih tidak membawa apa-apa, tetapi ia telah dibekali oleh Allah SWT, berbagai potensi kesempurnaan (fitrah) termasuk berbahasa dan kecerdasan yang perlu dikembangkan oleh para pendidik tak terkecuali ayah ibunya sebagai madrasah pertama dalam kehidupan si anak. Hadits rasulullah Muhammad SAW di atas memberikan petunjuk bahwa kesempurnaan potensial (fitrah) tidak hanya berupa kecerdasan intelektual, di mana nalar rasionalitas di dalamnya tetapi juga berbagai kecerdasan lain yang bermanfaat bagi kehidupan anak seperti kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual yang padat dengan nalar intuisif subyektif di dalamnya.

Namun demikian di kalangan masyarakat masih banyak yang menekankan bahwa anak-anak mereka harus unggul secara intelektual dalam kecerdasannya, seperti harus mendapat nilai “A” bahkan “A Plus”, serta menjadi yang terbaik di sekolahnya, memenangkan beasiswa dan kuliah di universitas paling bergengsi. Hal ini dapat dimaklumi karena masyarakat telah terkonstruksi untuk mayakini bahwa kecerdasan intelektual merupakan kunci bagi keberhasilan anak-anak di masa depan[xxiv]. Padahal kenyataannya tidak demikian, banyak di antara anak yang kecerdasan intelektualnya berprestasi dengan mendapat nilai “A” di sekolah, tetapi akhirnya ia bekerja kepada mereka yang secara intelektual, kecerdasannya masih berada di bawah dan mereka yang kecerdasan intelektualnya tidak terlalu baik justru menjadi pemimpinnya.

Bill Gates (pemilik mocrosoft), Sim Wong Hoo, Sylvester Stallone, Tiger Wood (pemain golf), dan Richard Branson, adalah beberapa dari ribuan orang yang dianggap tidak berhasil di sekolah tetapi menjadi orang yang berhasil di bidangnya[xxv]. Dengan demikian kecerdasan intelektual dengan nalar rasionalitas obyektif yang menjadi kebanggaan positifisme, adalah merupakan sebagian dari keseluruhan sukses yang akan dicapai seseorang, namun demikian ia bukan satu-satunya.

Secara garis besar, paradigma kecerdasan sebagai instrumen serapan keilmuan yang dianut oleh masyarakat, dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu, paradigma lama dan paradigma baru.

Paradigma lama, adalah dikemukakan oleh William Stern, seorang psikolog Jerman yang mengacu pada teori intelligensi Alfred Binet dan Theodore Simon, biasa disebut dengan Intelektual Intelligence (IQ). Bangunan utama kecerdasan (IQ), ditakar dalam skor-skor tertentu dan takaran tersebut telah menghilangkan kesempatan untuk berkembang bagi mereka yang memiliki IQ rendah, namun mempunyai kecerdasan lain yang dominan. IQ sebagai ukuran kecerdasan, menjadikan kemampuan matematis “merajai” dunia. Jarang sekali penghargaan diberikan kepada sastrawan, novelis, pelukis, penyanyi, olahragawan dan sebagainya, sebagai orang-orang cerdas. Yang disebut anak cerdas, adalah mereka yang nilai rapornya bagus, dan indeks prestasinya di atas rata-rata. Bahkan kantor-kantor baik negeri maupun swasta masih menjadikan nilai ijazah sebagai prasyarat bagi calon pegawainya. Padahal fakta lain membuktikan bahwa sebagian besar siswa yang nilai rapornya bagus, banyak yang menganggur karena tidak punya kemampuan skill, sementara yang pintar main musik dan piawai berolahraga diterima di beberapa bank atau perusahaan sebagai karyawan tetap. Lebih hebat lagi, mereka jauh lebih sukses dibandingkan teman-temannya yang cerdas dalam matematika dan keilmuan lain yang menjadikan nalar rasionalitas otak sebagai panglimanya.

Sedang paradigma baru yaitu, teori kecerdasan yang menawarkan pandangan yang lebih luas. Kecerdasan dalam pandangan teori yang keduan ini, mengatakan bahwa setiap orang memiliki beberapa jenis kecerdasan yang berkesinambungan dan dapat dikembangkan seumur hidup. Yang termasuk kategori ini di antaranya adalah teori kecerdasan ganda oleh Howard Gardner.

Teori kecerdasan ganda ini adalah model kognitif yang memakai pendekatan khusus dan terarah, dan karenanya kecerdasan ini lebih memberikan tempat kepada kecerdasan lain selain (IQ) dalam menghadapi dan mengatasi kehidupan. Dengan demikian bisa saja seorang yang tidak punya indra penglihatan, buta, tetapi mereka memiliki kecerdasan spasial, atau mereka yang tuli tetapi cukup memiliki kecerdasan musikal. Jadi kecerdasan menurut teori ini adalah merupakan suatu kecerdasan yang berkesinambungan dan dapat dikembangkan seumur hidup. Setiap orang dapat menjadi paling cerdas dengan kesempurnaan potensial fitrahnya masing-masing.

Kecerdasan ganda/majemuk menurut Howard Gardner ini, adalah:

–       Kemampuan menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia

–       Kemampuan menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan

–       Kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang[xxvi].

Menurut Howard Gardner,[xxvii] bahwa teori kecerdasan ganda/majemuk yang dipikirkannya itu lahir sebagai koreksi terhadap konsep kecerdasan yang dikembangkan oleh Alfred Binet,[xxviii] yang meletakkan dasar kecerdasan seseorang pada intelektual intelligence (IQ) saja. Berdasarkan tes IQ yang dikembangkannya, Binet menempatkan kecerdasan seseorang dalam rentang skala tertentu yang menitikberatkan pada kemampuan berbahasa dan logika semata. Dengan kata lain, apabila seseorang pandai dalam bahasa dan logika, maka ia pasti memiliki IQ tinggi. Tes Binet ini, menurut Gardner belum mengukur kecerdasan sepenuhnya. Menurut Gardner ada delapan janis kecerdasan yang kesemuanya terintegrasi dan saling terkait satu sama lain. Tidak ada kecerdasan yang berdiri sendiri, namun demikian di antara kedelapan kecerdasan tersebut ada domain-domain tertentu yang melebihi kecerdasan lainnya. Kedelapan kecerdasan itu adalah, Linguistic intelligence (word smart), Logical-mathematical intelligence (number/reasoning smart), Spatial intelligence (picture smart), Bodily-kinesthetic intelligence (body smart), Musical intelligence (music smart), Interpersonal intelligence (people smart), Intrapersonal intelligence (self smart), Naturalist intelligence (nature smart)[xxix].

a). Kecerdasan Linguistic intelligence (word smart)

Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk mengungkapkan pokok pikiran dan isi hati serta mampu mengkomunikasikannya kepada orang lain dengan suatu katak-kata dan bahasa yang mudah diterima baik melalui tulisan, bacaan maupun lisan seperti, para penulis, jurnalis, penyair, penceramah, deplomatik, komidian dan lain-lainnya. Mereka adalah, Ir. Soekarno, Surya Paloh, Abraham Lincoln, Faishal Tehrani, Wlliam Shakespeare, dan lain sebaginya.

b). Logical-mathematical intelligence (number/reasoning smart) 

Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk berpikir logis dan matematis serta kemampuan untuk berpikir deduktif dan induktif, membuat katagori-katagori, simbol, rumus, sebab dan akibat, seperti para saintis, akautan, analis dan lain-lainnya. Mereka adalah, Antonio Syafi’i, Nurchalis Madjid, Isaac Newton, Al-Khawarizmi, Albert Einstein, dan lain sebagainya.

c). Spatial intelligence (picture smart)

Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk menggambarkan kondisi mental maupun masa depan, serta ahli dalam menentukan warna, garis, matrik seperti, para pelukis, para arsitek, seniman, pemahat, dan lain-lainnya. Mereka adalah, Basuki Abdullah, Hijas Kasturi, Moh. Cheng Ho, Pablo Picasso, Leonardo da Vinci dan lain sebagainya.

d). Bodily-kinesthetic intelligence (body smart)

Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk menggunakan tubuh dalam mengungkapkan perasaan, serta terampil dalam menggerakkan tubuh secara teratur, seimbang termasuk punya kemampuan atlitis seperti, olah ragawan, petinju, penari, tentara dan lain-lainnya. Mereka adalah, Irfan Bachdim, Mohammad Ali, Charlie Chaplin, Michael Jordan dan lain sebagainya.

e). Musical intelligence (music smart)

Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk menyampaikan pikiran dan perasaan melalui irama dan musik serta kesenian lainnya seperti, para musikus, penyanyi, pencipta lagu, sutradara dan lain-lainnya. Mereka adalah, Ismail Marzuki, Taufik Abdullah, HB. Yasin, Roma Irama, Kitaro, dan lain sebagainya.

f). Interpersonal intelligence (people smart)

Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk bekerja dan berkomonikasi dengan orang lain secara pragmatis, empati, bekerjasama, akomodatif, saling menghargai perbedaan seperti, para politisi, pengacara, pengusaha, dokter dan lain-lainnya. Mereka adalah, Bambang Susilo Yudoyono, Oprah Winfrey, Donald Trump dan lain sebagainya.

g). Intrapersonal intelligence (self smart)

Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk membaca jatidiri seseorang, memberikan motivasi, konsentrasi diri, berprilaku disiplin seperti, para pengarang, psikolog, filasuf, guru, penyuluh dan lain-lainnya. Mereka adalah, Ibnu Sina, Sigmun Freud, Plato, Albert Ellis, dan lain sebagainya.

h). Naturalist intelligence (nature smart)

Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk mengenal berbagai jenis flora dan fauna, melakukan pemilahan-pemilahan runtut dalam dunia kealaman seperti, para pemburu, pertani, peneliti berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, berbagai jenis binatang, pencita lingkungan dan lain lainnya. Meraka adalah, Charles Darwin, David Star Jordan, Louis Agassis dan lain sebagainya.

Kecerdasan sebagai instrumen dari keilmuan, dalam perkembangannya ternyata tidak hanya bersentuhan dengan hasil temuan Alfred Binet dan Theodore Simon yang hanya bersinggungan dengan intelektual intelligention (IQ) dan multiple intelligenceisn oleh Gardner, tetapi telah berkembang kepada kecerdasan emosional intelligence (EQ). Adalah Daniel Goleman seorang psikolog yang sejak tahun 1990, mempopulerkan temuan para neurosaintis dan psikolog tentang emosional intelligence (EQ). Disebutkan dalam laporannya bahwa dengan (EQ) seseorang akan dapat mengerti perasaan orang lain, sehingga muncul kemampuan untuk mendeteksi kekuatan dan kelemahan diri, memaksimalkan kemampuan diri, berempati, memiliki motivasi dan berinteraksi dengan sesama[xxx].

Bahkan menurut Daniel Goleman, ketika skor IQ dikorelasikan dengan tingkat kinerja orang dalam karier mereka, taksiran tertinggi untuk besarnya peran selisih IQ terhadap kinerja adalah hanya sekitar 25 %, dan bahkan bila menggunakan analisis yang seksama, angka yang lebih tepat mungkin tidak lebih dari 10 %, atau bahkan bisa hanya 4 %[xxxi]. Bila demikian, tes IQ yang menjadi idola selama seratus tahu lebih itu, menurut Goleman tak akan lepas dari kesalahan, sehingga orang yang ber-IQ tinggi menurutnya, sering menunjukkan kinerja buruk dalam pekerjaan sementara orang yang ber-IQ rendah justru sangat berprestasi[xxxii].

Dengan demikian, IQ saja tidaklah dipandang cukup khususnya ketika berhadapan dengan dunia kerja, tetapi IQ perlu diimbangi dengan kecerdasan emosional seperti empati, wawasan  luas, saling percaya dan mampu bekerja sama, jujur, transparansi, adil, inisiatif, sabar dan trampil berkomunikasi.

Selanjutnya Danah Zohar dan Ian Marshal pada awal tahun 2000-an, juga mempromosikan temuannya tentang kecerdasan spiritual, Spiritual Intelligence (SQ), dalam sebuah bukunya yang berjudul Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence. Dalam buku tersebut dilaporkan bahwa melalui kecerdasan SQ seseorang akan mampu meraih nilai-nilai, pengalaman dan kenikmatan spiritual[xxxiii].

Hal lain adalah temuan dari Prof.V.S. Ramachandran, direktur centre for brain and cognition di Universitas Kalifornia, Sandiago, yang melaporkan hasil penelitian laboratnya, bahwa pasien-pasien epilepsi yang ditanganinya, melihat cahaya ilahiyah yang menyinari segala sesuatu. Kemudian penelitian dilanjutkan pada orang-orang normal dengan meningkatkan aktifitas lobus temporalnya dengan pengalaman spiritual, hasilnya dilaporkan bahwa memang ada titik Tuhan (God Spot) atau modul Tuhan (God Module) dalam otak manusia[xxxiv].

Paradigma Irfani/Kashaf

Dengan ditemukannya berbagai kecerdasan sebagai instrumen keilmuan, dari sejak kecerdasan inteletual (IQ), kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual (SQ), secara pelan tapi pasti, mengindasikan kebenaran sabda rasulullah SAW, tentang kesempurnaan potensial (fitrah) pemberian Allah SWT kepada hambanya yang bernama manusia dan sekaligus yang membedakan dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain seperti, hewan, tumbuh-tumbuhan dan lain-lainnya. Namun demikian bukan berarti paradigma keilmuan telah selesai, oleh sebab instrumen dari semua kecerdasan yang dipaparkan di atas masih menempatkan otak sebagai sentralnya sementara peran hati (qalb), seperti yang disabdakan rasulullah SAW belum mendapatkan tempat baik dalam paradigma positifisme maupun intuitisme. Seperti diketahui bahwa rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim yang bersumber dari sahabat Umar bin Khattab sebagai berikut.

Yang artinya: Amiril mu’minin ‘Umar bin Khatab ra, berkata, saya mendengar rasulullah SAW, bersabda, Sesungguhnya sah atau tidak suatu amal, tergantung pada niat, dan yang teranggap bagi tiap orang, apa yang ia niatkan[xxxv].

Para ulama sepakat bahwa tempat niat itu berada dalam hati (qalb) dan hati tersebut bertempat di dalam dada seperti yang dijelaskan Allah SWT, dalam Al-Qur’an surat al-hajj ayat 46, sebagai berikut.

(افلم يسيروا في الارض فتكون لهم قلوب يعقلون بها اواذ ان يسمعون بها فانها لاتعمى الابصار ولكن تعمى القلوب التى في الصدور (الحج ٤٦

Artinya, Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar ? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada[xxxvi].

Untuk itu, bila hasil penelitian tentang kecerdasan oleh Alfred Binet dan Theodore Simon, Daniel Goleman, Danah Zohar dan Ian Marshal, Ramachandran, dikaitkan dengan firman Allah SWT dan sabda rasulullah Muhammad SAW di atas, maka epistemologi keilmuan Islam adalah bersumber dari kecerdasan otak dan kecerdasan hati yang kalau dipetakan sebegai berikut:

Otak, tempat titik Tuhan (God Spot): Hati, merasakan kehadiran Tuhan

Otak, mencari Tuhan: Hati, menemukan Tuhan

Otak, berfikir: Hati, berdhikir

Otak, instrumen nalar rasional obyektif: Hati, instrumen nalar intuisif subyektif

Otak, merumus berbagai alternatif: Hati, memilih dan menentukannya

Otak, menyusun dan merumus teori keilmuan: Hati, menyinari dengan iman

Sinergitas dan harmunisasi kerja antara kecerdasan otak dengan nalar rasionalitas obyektifnya dan kecerdasan hati dengan nalar intuisif subyektifnya, disebut sebagai ‘aqal fikiran,yang dalam Al-Qur’an banyak mendapatkan tegoran Allah SWT, karena kedua kecerdasan tersebut tidak menjadi basis yang melandasi sebuah keilmuan افلا تعقلون)  (, seperti yang disebutkan dalam surat:

، الصافات ١٣٨  ،  (البقرة ٤٤ ، البقرق ٧٦ ، ال عمران ٦٥ ، الانعام ٣٢

الاعراف ١٦٩، يونس ١٦ ، هد ٥١ ، يوسف ١٠٩ ، الانبياء ١٠ ،الانبياء ٦٧ ، المؤمنون ٨٠ ، القصص ٦٠ )

Keilmuan Islam semestinya tidak meninggalkan salah satu dari kedua paradigma di atas, positifistik yang banyak menggunakan nalar rasionalitas obyektif, maupun fenomenologik yang banyak menggunakan nalar intuisif subyektif dan penuh makna. Dua instrumen tersebut dapatnya saling mengisi sehingga keilmuan Islam akan menjadi semakin kaya dari hazanah pemahaman, khususnya ketika menghadapi permasalahan kemanusiaan yang semakin sulit seperti sekarang ini. Menurut al-Ghazali dalam risalatu al-Laduniyatu bahwa alat yang dipergunakan manusia untuk memperoleh ilmu, adalah pancaindra, akal dan qalb (hati)[xxxvii]. Disebutkan pula dalam risalatu al-laduniyatu tersebut bahwa ilmu yang dimiliki manusia dapat diperolehnya dengan dua cara yaitu, ta‘alum insani (pengajaran secara manusiawi) dan ta ‘allum rabbani (pengajaran dari Tuhan)[xxxviii].

Karenanya sudah waktunya keilmuan Islam memadukan warisan hazanah intelektual terdahulu yang terpecah-pecah, yakni rasionalisme sebagai produk otak dan pancaindra di satu sisi serta intuisitisme sebagai produk hati yang padat makna pada sisi yang lainnya. Hal ini tidak saja karena tuntutan akademis semata, tetapi dari susud historika kedua instrument tersebut diturunkan oleh Allah SWT, dalam suatu masa yang sama sekalipun dalam lokus yang berbeda. Positifisme yang banyak menggunakan rasionalitas obyektif diturunkan oleh Allah SWT, di Yunani pada abad kelima sebelum kelahiran Yesus, untuk membebaskan umat manusia dari cengkraman metologi dengan Aristoteles dkk sebagai tokohnya, sementara intuitisme yang padat makna diturunkan oleh Allah di gurun Sinai Palestina untuk menghancurkan kedoliman Fir‘aun dengan nabi Allah Musa as, sebagi tokohnya termasuk juga diturunkan di India untuk memperbaiki kondisi soisal yang terpecah-pecah oleh sistem kasta dengan Sidarta Gautama sebagai tokohnya.

Selanjutnya keseluruhan upaya perbaikan dan pembebasan umat manusia tersebut diteruskan oleh Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW sebagai nabi penyempurna rah matan li al-‘alamin, seperti yang dijelaskan Allah SWT, dalam Al-Qur’an sebagai berikut:          وما ارسلناك الا رحمة للعالمين (الانبياء ١٠٧)

Artinya, Dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam[xxxix].

Dengan demikian epistemologi keilmuan Islam tidak hanya menyerap paradigma positivisme yang merupakan pengembangan kerja intelektual otak dengan indra sebagai instrumennya, tetapi juga harus menyerap paradigma fenomenologi dengan intuitisme sekaligus, yang banyak mengembangkan nalar subyektifisme yang padat makna dengan hati (qalb) sebagai instrumennya. Al-Ghazali menyebut yang terakhir ini dengan istilah kashaf, sedang Al-Jabiri menyebutnya dengan ‘Irfani.

Menurut Al-Ghazali, kashaf adalah ilmunya para nabi dan para auliya’ yang zuhud dari kemewahan dunia serta mempunyai himmah yang tinggi untuk makrifatu Allah.

فالأنبياء والاولياء انكشف لهم الأمر وفاض على صدورهم النورلابالتعلم والدراسة والكتاب للكتب, بل بالزهد في الدنيا والتبرئ من علائقها وتفريغ القلب من شواغلها والإقبال بكنه الهمة على الله تعالى [xl]

Artinya, Mereka para nabi dan auliya’ diberi pengetahuan kashaf (pengetahuan intuisif) yang dapat mengetahui segala urusan dan karena dipenuhi cahaya kebesaran Allah dengan tanpa melalui proses pendidikan serta pembelajaran terhadap buku-buku tetapi segalanya diperoleh melalui zuhud (tak terpengaruh oleh kemewahan duniawi)[xli] serta berkonsentrasi dengan himmah yang tinggi untuk selalu mendapatkan ridha Allah SWT.

Al-Jabiri menyebutnya dengan Irfani, yang dikalangan para al-‘Arifin dikenal dengan istilah kashaf dan ‘Ayyan ,

واما العرفان كفعل معرفي فهو ما يسميه أصحابه ب (الكشف) او(العيان), وكحكل معرفي هو عبارة عن خليط من هواجس وعقائد واسا طر تتلون بلون الدين الذي تقوم علي هامشة لتقدم له ما يعتقده العرفانيون أنه (الحقيقة) الكامنة وراء ظاهر نصوصه [xlii]

Artinya, Irfani seperti yang dilakukan para al-‘arifin adalah sama dengan kashaf dan ‘ayyan, sementara menurut pemahamannya adalah berbagai pengetahuan, akidah serta cerita  agama yang diyakini kebenarannya oleh para al-‘Arifin sebagai suatu hakikat yang tersembunyi di balik lahiriahnya nas.

 

Disadari atau tidak, keilmuan Islam ternyata sejak lama juga terpengaruh kepada paradigma positifisme ini. Karenanya perkembangan keilmuan islam seperti, fiqih, tauhid, tafsir, hadits dan lain-lainnya, terpotong dan tidak tersambung dengan hakikat ketuhanan, keagamaan dan kemanusiaan, yang tidak hanya harus didekati dengan nalar rasionalitas obyektif tetapi dengan nalar intuisif subyektif sekaligus. Dan sebagai akibatnya, keilmuan Islam tersebut tidak menyentuh realitas hakiki yang menyejukkan kehidupan seperti Tuhan yang pengasih dan penyayang, agama yang rahmatan lil al- alamin serta kemanusiaan dengan segala kesempurnaan potensialnya (fitrah) untuk mengembangkan tugas kekhalifahan di bumi. Dengan demikian keilmuan Islam tidak hanya melihat seseorang sebagai obyek yang bersifat apa adanya, tetapi apa yang bersifat apa adanya itu harus ditempatkan dalam suatu kerangka bagaimana seharusnya. Artinya keilmuan Islam tidak hanya berada dalam aktifitas penggunaan nalar rasionalitas obyektif, tetapi nalar intuisif subyektif sekaligus, agar keilmuan Islam tidak akan mengalami problem yang sama seperti perkembangan keilmuan positifisme.

 

G. Kesimpulan

  1. Secara epistemologis, keilmuan Islam dikembangkan dari positifisme dan fenomenologis sekaligus, dengan memperhatikan berbagai petunjuk Allah SWT, dan rasul-Nya yang secara normatif terakomulasi dalam konsep dasar keislaman yaitu, Al-Qur’an dan al-hadits.
  2. Sebagai bagian dari kesempurnaan potensial (fitrah) pemberian Allah SWT, keseluruhan kecerdasan yang dimiliki manusia perlu dikembang tumbuhkan melalui serapan keilmuan Islam sesuai dengan konsep dasar ke Islaman yaitu, Al-Qur’an dan al-hadits.
  3. Keilmuan Islam tidak mengenal antagonisme dalam keilmuan (agama dan umum), karena semua ilmu adalah ilmu Allah SWT, yang diamanahkan kepada manusia untuk terkondisinya misi kenabian rahmatan li al-‘alamin.

          __________________________

DAFTAR PUSTAKA

 Al-Qur’an dan terjemahnya, Departeman Agama RI, 1984

Amstrong, Thomas, Sekolah Para Juara, (terj.) Yudi Murtanto. Bandung : Kaifa. 2002.

Bianto dkk,” Fenomena Urban Sufism Muslim Metropolis”, dalam Jurnal Istiqro’, Volume 5, No.1/2006.

Al-Bukhari, ‘Abi Abdillah Muhammad bin Isma‘il, Matnu al-Bukhari, jus III, Mesir, Maktabah al-Nasiriyah,tth.

Gardner, Howard, Intelligence Referenced : Multiply Intelligences for the 21 century, New York BasicBooks, 1999.

Goleman, Daniel, Kecerdasan Emosi Untuk mencapai Puncak Prestasi, terj. Alex Tri Kancono Widodo, Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama, 2005.

Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumu al-din, jus III, yang menjelaskan tentang para siddiqin yang ingkisyaf  hatinya dengan ilham dari Allah swt, karena ketakwaannya, Beirut: Daru al-Kutubi al- Ilmiyah, 1971

Horgan, Jhon, The End Of Science, terj. Djejen Zainuddin, Jakarta: Mizan Publika, 2005.

http://s6.zetaboard.com/Dragonizer/topic/760348/1/  diakses tanggal 11 Mei 2011.

Al-Idawati, Khairu, Paradigma Kecerdasan Kontemporer, makalah diskusi kelas Program Doktor, PPS IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2008.

Al-Jabiri, Muhammad ‘Abid, Bunyatu al-‘Aqli al-‘Arabi, Beirut: Al-Markazi al-Thaqafi al-‘Arabi, 1993

Luwin, May dkk, How to Multiply Your Child’s Intelligence; Cara Mengembangkan Berbagai Komponen Kecerdasan. Edisi Bahasa Indonesia. Jakarta : PT. Indeks Kelompok Gramedia, 2005.

Muslih, Muhammad, Pengetahuan intuitif model Husserl & Suhrawardi, Ponorogo: CIOS, 2010

Muhyidin, Muhammad, Membuka Energi Ibadah,Yogyakarta: Diva Press,2007.

Padil, Moh,  Sosiologi Pendidikan, Malang: UIN Maliki Press, 2010.

Ritzer, George – Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Jakarta: Kencana, 2004.

Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999.

Sholihin, M,  Epistemologi Ilmu Dalam Sudud Pandang al-Ghazali, Bandung: Pustaka setia, 2001.

Salabi, A, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: PT. Jaya Murni, 1970.

Al-Suyuti, Jalaluddin, ‘Abdu Al-Rahman bin Abi Bakar, Al-Jami’u al-Saghir, Jus II, Shirkah Nur Asia, tth.

Upe, Ambo, Tradisi Aliran Dalam Sosiologi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010

Zohar, Danah, dan Ian Marshall, SQ-Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berfikir Integralistik dan Holistik untuk memaknai Kehidupan. terj. Rahmani Astuti, A. Najib Bukhari dan Ahmad Baiquni. Bandung : Mizan, 2002

www.wikipedia.com, diakses tanggal 11 Mei 2011.


[i]‘Abi Abdillah Muhammad bin Isma‘il al-Bukhari, Matnu al-Bukhari, jus III, (Mesir, Maktabah al-Nasiriyah,tth), 153.

[ii] M. Qurash Shihab, Tafsir al-Misbah, Volume 8, (Jakarta: Lentera hati, 2002), 91

[iii] QS. Al-Kahfi, 65

[iv] QS. Al-Kahfi, 69-70

[v] QS. Al-Kahfi, 78

[vi] QS. Al-Kahfi, 70

[vii] QS. Al-Kahfi: 79

[viii] QS. Al-Kahfi: 80-81.

[ix] QS. Al-Kahfi: 82.

[x] QS. Al- Kahfi: 67-69.

[xi] George Ritzer – Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Jakarta: Kencana, 2004), 19.

[xii] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999), 73

[xiii] Ibid., 191.

[xiv] Muhammad Muslih, Pengetahuan intuitif model Husserl & Suhrawardi,(Ponorogo: CIOS, 2010), 2-3

[xv] Jhon Horgan, The End Of Science, terj. Djejen Zainuddin, (Jakarta: Mizan Publika, 2005), 50.

[xvi] Ibid., 63.

[xvii] Ibid., 67.

[xviii] Ambo Upe, Tradisi Aliran Dalam Sosiologi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010), 16.

[xix] Muhammad Muslih, Pengetahuan Intuitif Model Husserl & Suhrawardi, (Gontor Ponorogo: CIOS, 2010), 24.

[xx] Ambo Upe, Tradisi Aliran Dalam Sosiologi, 17.

[xxi] Moh. Padil, Sosiologi Pendidikan, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), 75

[xxii] Ibid, 75

[xxiii] Jalaluddin, Abdu Al-Rahman bin Abi Bakar al-Suyuti, Al-Jami’ al-Saghir, Jus II (Shirkah Nur Asia), 94

[xxiv] Khairu al-Idawati, Paradigma Kecerdasan Kontemporer, makalah diskusi kelas Program Doktor, PPS IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2008,  1.

[xxv] Ibid., 8.

[xxvi] Thomas Amstrong. Sekolah Para Juara, terj. Yudi Murtanto. (Bandung : Kaifa. 2002), 2.

[xxvii]Seorang ahli pendidikan yang menemukan teori multiply intelligences ganda/majemuk. Dia adalah CO-Direktur of Project zero dan professor pendidikan, di Harvard yang bertahun-tahun melakukan penelitian tentang perkembangan kapasitas kognitif manusia.

[xxviii]Alfred Binet di lahirkan di Prancis tanggal 5 Juli 1857 dan meninggal 18 Oktober 1911. dia adalah seorang psikolog pertama yang mengembangkan sebuah tes IQ untuk mengukur kemampuan intelektual dari siswa-siswa sekolah di Perancis pada tahun 1904. (lihat www.wikipedia.com).

[xxx] Bianto dkk,” Fenomena Urban Sufism Muslim Metropolis”, Istiqro’, Volume 5, No.1 (2006), 136.

[xxxi] Daniel Goleman, Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi, terj. Alex Tri Kancono Widodo, (Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama, 2005), 30.

[xxxii] Ibid, 25

[xxxiii] Bianto dkk, Fenomenahal, 136.

[xxxiv] Muhammad Muhyidin, Membuka Energi Ibadah,(Yogyakarta: Diva Press,2007), 35

[xxxv] Abu Zakaria Yahya, Riyadu al-salihin, jus I, terj. Salim Bahreisj (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1981), 10.

[xxxvi] QS. Al-Hajj: 46.

[xxxvii] M. Sholihin, Epistemologi Ilmu Dalam Sudud Pandang al-Ghazali, (Bandung: Pustaka setia, 2001), 16

[xxxviii] Ibid., 39.

[xxxix] QS. Al- Anbiya’: 107.

[xl] Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya ‘Ulumu al-Din, (Beirut: Daru al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2008), 24

[xli] Zuhud, bukan tidak suka kemewahan dunia, tetapi bagaimana kemewahan itu tidak memutus ketersambungan bersama Allah SWT.

[xlii] Muhammad ‘Abid al-Jabiri, Bunyatu al-‘Aqli al-‘Arabi, (Beirut: Al-Markazi al-Thaqafi al-‘Arabi, 1993), 557