Pembinaan Akademik Program Pascasarjana

Dalam rangka meningkatkan kualitas lembaga, maka Prorgam Pascasarjana IAI Nurul Jadid mengadakan kegiatan Pembinaan Kelembagaan dan Akademik dengan pembicara Dr. Muhammad Zain, M.Ag (Kasubdit Pengembangan Akademik Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI), Sabtu, 21 Januari 2012.

Acara tersebut tak hanya dihadiri pimpinan dan staf Pascasarjana, namun seluruh jajaran rektorat dan dekanat Institut Agama Islam Nurul Jadid beserta para mahasiswa.

Dr. Zain menjelaskan bagaimana menumbuh-kembangkan budaya akademik di kampus. Dulu, Dr Jahja Umar, mantan Dirjen Pendidikan IslamKemenagRIsering menegaskan bahwa: saya melihat di kampus banyak civitas politika ketimbang civitas akademika. Hal ini dapat dilihat ketika terjadi suksesi rektor atau dekan. Civitas akademika berbondong-bondong ke kampus. Bahkan para dosennya biasanya begadang semalam suntuk hanya untuk membicarakan strategi memenagkan calon yang diusungnya.

Fenomena seperti ini tidak terjadi pada budaya akademik. Paradosen hanya melaksanakan program pembelajaran yang standar saja. Sementara di negara-negara maju, setiap dosen dalam seminggu memiliki “office hours”(jam kerja) tiga sampailima jam hanya untuk melayani dan membimbing mahasiswa. Biasanya dosen tertentu menuliskan secarik kertas di pintu kantornya yang di dalamnya tertulis mahasiwa mana yang telah dijadwal untuk melakukan bimbingan.

Prinsipnya, dosen harus memberikan bimbingan dan pelayanan yang penuh kepada mahasiswa.  Setiap dosen juga memiliki link dengan internet, sehingga memudahkan para mahasiswa untuk mengakses latar dan dasar pemikiran sang dosen, baik karya-karyanya dalam bentuk buku, artikel dan ataupun power point. Hal ini sangat memudahkan mahasiswa untuk mempelajari terlebih dahulu pokok-pokok pikiran sang dosen sebelum ia sendiri mengikuti perkuliahan di kelas.

“Seorang dosen mestinya tidak mencari objekan di luar kampus. Seorang dosen harus menyadari sepenuhnya bahwa pilihan menjadi pendidik memang harus hidup sederhana, dan tidak sampai kaya. Demikian pengakuan  Nico Kaptein salah seorang dosen diLeidenUniversity, Belanda,” terang Dr. Zain di depan forum. (ROF)